Jumat, 21 November 2014

The Hunger Games : Mockingjay Part 1 (2014)



Genre : Action, Drama
Score : 2.5/5

Setelah berhasil dievakuasi dari arena Quarter Quell yang dihancurkan Katnis karena berhasil melontarkan anak panah yang bermuatan listrik ribuan volt ke medan magnet arena, Katnis kini berada di distrik 13, distrik yang diklaim Capitol sebagai area yang sudah hancur sejak puluhan tahun silam.

Di sana Katnis memulihkan diri dari beban mental yang didera pasca Hunger Games nya yang kedua. Dia merasa menjadi penyebab semua kerusakan yang terjadi, termasuk hancurnya distrik 12 dan meninggalnya ribuan warga di berbagai distrik. Belum lagi dia memikirkan nasib Peeta yang tidak berhasil diselamatkan dari arena.

Katnis bersama distrik 13 menyusun rencana untuk fight back. Memprovokatori distrik lain agar mau ikut bergabung melawan Snow, sang diktator penguasa Capitol. Tentu saja yang menjadi icon penyemangat mereka adalah Katnis, sang Mockingjay. 

***


Buku ketiga dari trilogi Hunger Games karangan Suzanne Collins ini buat saya pribadi adalah buku yang paling lama saya tamatkan. Entah kenapa plot cerita yang terasa lambat dan terkesan dipanjang-panjangkan. Kegalauan Katnis makin menjadi-jadi di buku ini. Sebelumnya di buku kedua, saya sejujurnya sudah bosan dengan cerita cinta segitiga antara Katnis, Gale dan Peeta. Jadi makin menye-menye banget. Untungnya di buku kedua, kisah Quarter Quell kembali membalikkan keadaan.
Di Mockingjay, kekalutan Katnis semakin menjadi-jadi, hal ini pulalah yang membuat saya merasa bosan dan malas menyelesaikan ceritanya.

Kembali soal filmnya, dibandingkan dengan bukunya, penuturan di film jauh lebih simple dan mudah dimengerti. Gambaran di awal yang menurut saya terlalu dibuat ribet oleh sang penulis, berhasil dieksekusi sang sutradara menjadi lebih gampang dicerna. makanya 6 bab awal buku Mockingjay ditransfer ke dalam bentuk visual dengan sangat cepat, hanya sekitaran 10-15 menit saja.


Hanya saja, kelugasan bertutur ini tidak diikuti di separuh film terakhir. Kelabilan Katnis kemudian malah diekspose berlebihan. Beberapa part penting yang menarik dibukunaya malah dilewatkan begitu saja. sebutlah contohnya ketika Katnis diperkenalkan kostum dan senjata barunya. Saya menyukai bagian itu, karena terasa sophisticated. Senjata canggih dengan balutan kostum yang katanya fashionable dan tetap tangguh. Termasuk perkenalan Katnis dengan senjata panahnya yang keren hasil buatan Beete. Di film biasa saja. Tapi untuk pertemuan pertama kali Peeta dan Katnis  setelah berpisah lama menjadi lebih seru dan menegangkan di filmnya.

Overall, filmnya ini mampu mendelivery ceritanya menjadi  lebih bagus dan menarik dari bukunya sendiri. Akan tetapi filmnya sendiri tidaklah lebih bagus dari film keduanya, Catching fire. Di film ini drama Katnis ditampilkan berlebihan. Meski akting JenLaw di beberapa part terasa menyentuh tapi di beberapa part lainnya terasa berlebihan. Well, di luar penampakan JenLaw yang menurut saya lebih cantik di film ini, dia tampil tidak lebih baik dari dua film sebelumnya.

Masih bisa dinikmati dan cukup menghibur untuk penggemar seri Hunger Games. Peringatan, sebaiknya nonton film 1 dan 2 nya sebelum menonton film ini, karena kalau tidak, dijamin bakal bingung dengan filmnya.


Tidak ada komentar: